Postingan akun Instagram infojatinangor pada 22 Februari 2026 jadi sorotan. Video yg di unggah memperlihatkan aksi solidaritas mahasiswa di Dusun Warungkalde, Desa Cikeruh, Jatinangor, tepatnya di sekitar plang Brimob.
Aksi Solidaritas atas Kasus Dugaan Penganiayaan Oknum Brimob di Maluku
Di keterangan video, disebutkan bahwa aksi itu merupakan respons atas kasus yang sedang viral yaitu dugaan penganiayaan oleh seorang oknum Brimob terhadap remaja 14 tahun hingga meningg4l duni* di Kota Tual, Maluku, pada Kamis 19 Februari 2026.
Aksi di lapangan nampak berjalan kondusif. Mahasiswa berkumpul, menyuarakan tuntutan, membentangkan spanduk, dan menyampaikan orasi. Namun, dinamika berbeda justru terlihat di ruang digital.
Dugaan Akun Buzzer di Kolom Komentar
Dan yang membuat semakin menarik, netizenenyoroti Klkolom komentar unggahan tersebut yang disinyalir dipenuhi akun-akun dengan nama pengguna tak lazim.
Beberapa di antaranya menggunakan kombinasi huruf dan angka acak. Pola komentarnya pun tampak seragam, kalimat pendek, nada serupa, bahkan penggunaan diksi yang hampir identik satu sama lain.
Fenomena ini memunculkan dugaan adanya upaya pengkondisian opini di media sosial. Alih-alih ruang diskusi organik, kolom komentar terlihat seperti diarahkan pada satu narasi tertentu.
Sejumlah komentar terkesan menggiring persepsi, baik dengan membela pihak tertentu maupun meremehkan aksi solidaritas tersebut.
Pengkondisian Opini Ditengah Isu yang Mencuat
Pola seperti ini bukan hal baru dalam lanskap digital. Dalam berbagai isu sensitif, kemunculan akun-akun anonim dengan karakteristik serupa kerap dikaitkan dengan praktik buzzer atau bot yg bertugas membentuk opini publik.
Biasanya, cirinya terlihat dari ritme komentar yg cepat, redaksi berulang, hingga interaksi antar akun yg saling menguatkan narasi yg sama.
Aksi solidaritas di Jatinangor mungkin berlangsung beberapa jam. Tapi pengkondisian narasi di media sosial tampaknya masih terus berjalan.


0Komentar
Jangan lupa kasih komentar yaaa :D