Gfr6TUC7BUM9TSd5TfW0BSro
Light Dark
Bandung Siap Lakukan Transformasi di Sektor Pariwisata Menuju Layanan Kelas Dunia pada 2026

Bandung Siap Lakukan Transformasi di Sektor Pariwisata Menuju Layanan Kelas Dunia pada 2026

Daftar Isi
×

Masa Depan Ekonomi Bandung Melalui Pariwisata

Kota Bandung berfokus pada pengembangan sektor jasa dan pariwisata sebagai pilar utama untuk memajukan ekonomi daerah. Menurut Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, daya saing kota tidak hanya bergantung pada daya tarik destinasi, tetapi juga harus didukung oleh kualitas pelayanan yang tinggi agar mampu bersaing dengan kota-kota besar dan destinasi wisata nasional.

Tantangan di Sektor Pariwisata

Farhan mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh industri pariwisata saat ini tidak hanya terletak pada infrastruktur fisik, melainkan juga pada kompetensi sumber daya manusia. Kualitas layanan menjadi faktor penentu dalam meningkatkan indeks pariwisata Kota Bandung.

“Kunci persaingan pariwisata hari ini, kualitas layanan, skill pelayanan harus naik level, karena kita bersaing langsung dengan kota-kota besar dan destinasi wisata nasional,” ujar Farhan pada 12 Februari 2026.

Pengaruh Pandemi dan Pemulihan Ekonomi

Farhan menyatakan bahwa sebelum pandemi Covid-19, sektor pariwisata berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp1,2 triliun dengan pertumbuhan ekonomi hampir mencapai 8 persen. Namun, pandemi membawa dampak negatif yang signifikan, menyebabkan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung terkontraksi hingga minus 3 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung telah kembali di kisaran 5,85 persen, meski pemulihan dinilai belum sepenuhnya stabil,” tambahnya. Pemerintah Kota Bandung saat ini sedang menyusun kembali kebijakan pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah.

Reformasi Tata Kelola dan Perlindungan Sosial bagi Pelaku Pariwisata

Farhan juga menekankan pentingnya perlindungan sosial bagi para pelaku industri, termasuk pekerja informal dan gig worker di sektor pariwisata, melalui skema BPJS Ketenagakerjaan.

Pentingnya reformasi dalam tata kelola birokrasi juga mendapat sorotan dari Farhan. Ia menjelaskan bahwa sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif harus dipisahkan dalam nomenklatur yang berbeda, mengingat ketiganya memiliki karakteristik dan kebutuhan yang beragam.

“Struktur organisasi di Kota Bandung masih menggabungkan ketiga sektor, sehingga alokasi sumber daya dinilai kurang fokus,” katanya. Pemkot Bandung berencana mengajukan penataan nomenklatur agar sektor budaya dapat dikelola secara mandiri dan optimal.

Pelestarian Identitas Budaya dan Rencana Pengembangan

Farhan menekankan bahwa identitas budaya fisik Bandung, terutama arsitektur kota, merupakan warisan yang harus dilestarikan sebagai daya tarik wisata. Bandung, yang dirancang sebagai kota kosmopolitan berbasis industri, mengalami transformasi ekonomi dari agroindustri ke sektor tekstil dan jasa, yang membentuk karakter urban yang unik.

Ia juga membahas rencana penyesuaian konsep Teras Cihampelas untuk mengembalikan karakter kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan yang tertata, tanpa menghilangkan keindahan pepohonan yang menjadi ciri khas kota.

“Proses pembenahan harus dilakukan secara hati-hati dengan pendampingan hukum agar tidak menimbulkan potensi kerugian negara,” ucapnya.

Pengembangan Pariwisata Kelas Menengah Atas

Pemkot Bandung berupaya mendorong peningkatan kunjungan wisata melalui pengembangan pariwisata kelas menengah atas, dengan fokus pada wisata kesehatan, edukasi, dan olahraga yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan ketahanan terhadap fluktuasi pasar.

Farhan memberikan contoh kemajuan wisata kesehatan melalui rumah sakit estetika berstandar tinggi di Bandung, serta potensi yang dimiliki oleh kampus-kampus ternama untuk memperkuat wisata edukasi. Di bidang olahraga, kawasan Stadion Siliwangi dan pengembangan Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) diharapkan dapat menjadi pusat sport tourism terpadu.

“Bandung harus mampu menghadirkan pengalaman wisata kelas tinggi tanpa kehilangan identitasnya,” kata Farhan. Ia menekankan bahwa pembangunan ekosistem pariwisata berkelanjutan memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak.



Sumber: radarbandung.id (13/02/2026)

0Komentar