
Pentingnya Peran Warga dalam Pengelolaan Sampah di Kota Bandung
Kota Bandung sedang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, dan peran aktif warga dianggap sebagai kunci untuk mencapai solusi yang efektif.
Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Andri Rusmana, menekankan bahwa keberhasilan dalam pengelolaan sampah tidak akan terwujud jika hanya mengandalkan kebijakan pemerintah tanpa keterlibatan masyarakat, terutama di tingkat rumah tangga.
Pola Pengelolaan Sampah yang Masih Belum Teratur
Andri Rusmana mengungkapkan bahwa sumber utama masalah sampah terletak di hulu, di mana pola pengelolaan di lingkungan warga belum tertib dan berkelanjutan. Ia menggarisbawahi pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah sebagai langkah awal. Menurutnya, memilah antara sampah organik, anorganik, dan residu merupakan fondasi penting agar sistem pengolahan di tingkat kota dapat berjalan dengan baik.
Andri menyatakan, "Kebiasaan memilah sampah harus menjadi kewajiban bersama, bukan sekadar imbauan." Ia menambahkan bahwa tanpa adanya disiplin dari warga, berbagai program pengelolaan sampah yang diterapkan hanya akan menjadi solusi sementara.
Mendorong Partisipasi Warga Melalui Insentif dan Sanksi
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, Andri mengusulkan adanya skema insentif bagi warga yang konsisten dalam memilah sampah. Insentif ini bisa berupa pengurangan iuran kebersihan atau sistem poin yang terhubung dengan bank sampah yang bernilai ekonomi. Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya penerapan sanksi progresif bagi warga yang tidak menjalankan kewajiban pemilahan.
Ia menegaskan, "Ketegasan dibutuhkan agar sistem pengelolaan sampah berjalan adil dan tidak merugikan warga yang sudah patuh."
Pentingnya Tempat Pengolahan Sampah dan Revitalisasi Bank Sampah
Andri juga menyoroti pentingnya keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di setiap kecamatan. TPS 3R diharapkan dapat menjadi ruang partisipasi warga dalam mengolah sampah organik menjadi kompos, sekaligus mengurangi jumlah residu yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 40 hingga 60 persen.
Selain itu, revitalisasi bank sampah yang melibatkan warga secara aktif juga menjadi fokus perhatian. Bank sampah yang terintegrasi secara digital, terhubung dengan UMKM dan program CSR perusahaan, diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung kepada warga dari pengelolaan sampah.
Inovasi dalam Pengelolaan Sampah Organik
Untuk pengelolaan sampah organik, Andri mengajak warga untuk berpartisipasi dalam berbagai inisiatif komunitas, seperti penggunaan komposter di tingkat RW, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), dan pemanfaatan kompos untuk kegiatan urban farming. Namun, ia juga mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat tidak terjebak pada solusi instan dalam teknologi pengolahan sampah.
Setiap teknologi yang diterapkan harus aman, selektif, dan memenuhi uji Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Di samping itu, edukasi publik yang melibatkan warga juga sangat penting.
Edukasi dan Transparansi dalam Pengelolaan Sampah
Andri menekankan, "Edukasi pengelolaan sampah perlu masuk ke kurikulum sekolah dan ruang-ruang komunitas, termasuk lingkungan keagamaan." Ia juga menyatakan bahwa transparansi informasi terkait pengelolaan sampah sangat diperlukan. Masyarakat perlu mengetahui ke mana sampah dikirim, berapa biaya yang dikeluarkan, serta dampak lingkungannya agar rasa tanggung jawab bersama dapat tumbuh.
Ia menutup dengan pernyataan, "Kalau warga dilibatkan dan diberi informasi yang jelas, mereka akan merasa memiliki. Pengelolaan sampah bukan hanya urusan pemerintah, tapi tanggung jawab bersama seluruh warga Kota Bandung."
Sumber: radarbandung.id (26/01/2026)


0Komentar
Jangan lupa kasih komentar yaaa :D