Gfr6TUC7BUM9TSd5TfW0BSro
Light Dark
Menu MBG SD Negeri di Bandung Jadi Sorotan, Netizen: Lebih Bergizi Makan di Warteg

Menu MBG SD Negeri di Bandung Jadi Sorotan, Netizen: Lebih Bergizi Makan di Warteg

Daftar Isi
×

Baru-baru ini, siswa kelas 4 SDN 104 Langensari Senanggalih, Kota Bandung, menerima menu dari program Makanan Bergizi (MBG) yang menuai berbagai reaksi di kalangan netizen. 

Kabar ini diunggah oleh akun Instagram @prfmnews, menampilkan foto menu yang diterima pada Kamis, 12 Maret 2026, hanya terdiri dari telur rebus, pisang, kacang, dan gorengan gehu. 

Publik pun mempertanyakan, apakah menu tersebut sesuai dengan standar gizi yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia untuk program ini?

Menurut aturan dari Badan Gizi Nasional (BGN), anggaran untuk menu MBG bagi siswa kelas 4 SD ke atas adalah Rp10.000 per porsi. Hal ini menjadi sorotan mengingat menu yang disajikan tampaknya tidak memenuhi ekspektasi.

Sindiran Keras dari Netizen

Di tengah berbagai kritik, ada juga netizen yang memberikan pandangan positif. Seorang netizen dengan akun @firman_kelana_sukma menyatakan, "MBG jelas2 sangat bermanfaat untuk pemilik dapur MGB apalagi kalo punya 10 dapur." komentar bernada sindiran ini menekankan bahwa manfaat MBG lebih dirasakan oleh pengelola daripada siswa.

Netizen lainnya, @mctfq, menambahkan, "Gehu sarebu, cau sarebu, kacang gope... Manehna Cuan 15jt dari menu ini... Edan pisan kan." Ia menerka harga pokok masing-masing item, sehingga program ini dinilai sangat menguntungkan pengelola.

Di sisi lain, @ryknoerht berkomentar, "Lebih BERGIZI makan di warteg porsi 10rb WKWK," menyiratkan bahwa mereka percaya ada pilihan makanan di warteg yang lebih bergizi dibandingkan dengan menu MBG yang disajikan.

Keluhan Terhadap Menu yang Disajikan

Tidak sedikit netizen yang mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap menu yang diterima. Akun @orin.alulamia_ mengatakan, "Kacang blm lebaran udh punya setoples Keripik tempe... Anak anak udh males duan plus mana ada gizi nya SING BARISA MAWA NAH." Ini menggambarkan kekecewaan terhadap variasi dan nilai gizi dari makanan yang disajikan.

Selanjutnya, @widaferyanti menulis, "Capek capek bikin dapur yg dimasak telor rebus😭," menandakan bahwa ia merasa tidak puas dengan pilihan makanan yang sangat terbatas. Juga, @santi_jong menambahkan, "Cape banget ini hati tiap hari liat berita soal MBG... Kok ngomongnya berjalan bagus terus??" yang menunjukkan frustrasi terhadap situasi yang terus berulang.

Perbandingan Menu dan Anggaran

Beberapa netizen juga membandingkan menu MBG dengan menu yang disajikan di tempat lain. Akun @hakimmasyhur berkomentar, "8rb mending sarapan kupat tahu mang Ujang," menunjukkan bahwa mereka merasa ada pilihan sarapan yang lebih baik dengan harga yang sama. 

Ini semakin memperkuat pertanyaan publik tentang bagaimana kualitas menu MBG yang dibandingkan dengan makanan lokal yang lain.

Selain itu, @denifaturr mengungkapkan rasa ingin tahunya dengan bertanya, "Kok beda sama yg di kasih sample ke presiden?" Ini menunjukkan skeptisisme tentang kualitas menu yang disajikan kepada siswa dibandingkan dengan sampel menu yang diperlihatkan kepada presiden.

Kritik Terhadap Pelaksanaan Program

Banyak netizen yang mempertanyakan pelaksanaan program MBG secara keseluruhan. Seorang netizen dengan akun @tryrochmanto mempertanyakan, "Sebelah mana masaknya atuh dapur2 modern mewah sppg teh," yang menunjukkan keraguan terhadap kualitas dan optimalisasi dapur pengolahan makanan yang untuk mendirikannya memerlukan biaya mahal.

Hal ini juga diperkuat oleh komentar @eka_harijanto yang menjelaskan perbandingan menu MBG di beberapa sekolah, sehingga menunjukkan variasi yang mungkin tidak konsisten di setiap tempat.

Secara keseluruhan, reaksi netizen terhadap menu MBG yang disajikan di SDN 104 Langensari menunjukkan campuran antara harapan dan kekecewaan. 

Meskipun ada beberapa pandangan positif, banyak yang merasa bahwa menu yang disajikan tidak memenuhi standar gizi yang diharapkan. Diskusi ini mencerminkan kebutuhan untuk evaluasi dan perbaikan dalam pelaksanaan program MBG agar lebih bermanfaat bagi siswa.

0Komentar